The Curse of The Weeping Woman, Teror Mencekam Hantu Wanita Menangis – Fajar Seleb
hiburan

The Curse of The Weeping Woman, Teror Mencekam Hantu Wanita Menangis

Oleh: Jeri Wongiyanto
Pecinta dan Pengamat Film

KISAH hantu wanita yang memangsa anak kecil banyak menjadi legenda di berbagai negara. Di Indonesia, pecinta film horor sudah mengenal Kuntilanak dan Danur. Kini film horor terbaru dari semesta “The Conjuring” hadir di bioskop, berjudul “The Curse of The Weeping Woman”. Diproduseri James Wan yang telah sukses menggarap “Insidious” (2010) dan “The Conjuring” (2013). Sementara sutradaranya ditangani Michael Chaves.

Bercerita tentang hantu wanita pemangsa anak kecil, yang menjadi legenda rakyat Mexico. Menurut mitos La Llorona adalah wanita yang menenggelamkan anaknya hingga tewas karena sakit hati. Namun ia lalu menyesal dan menangis. La Llorono kemudian bunuh diri di sungai yang sama. Arwahnya menjadi sangat jahat dan gentayangan mencari korban anak kecil.

Mengambil setting tahun 1973, film ini berkisah tentang seorang pegawai dinas sosial bernama Anna Garcia (Linda Cardellini). Ia seorang Ibu tunggal yang mempunyai dua anak bernama Chris (Roman Christou) dan Samantha (Jaynee-Lynne Kinchen). Kali ini Anna terlibat dalam penyelidikan yang berhubungan dengan kekuatan supranatural, kasus Patricia yang dituduh melakukan penganiayaan pada anaknya sendiri.

Anna menemukan kedua anak Patricia yang terkunci dalam lemari. Anna akhirnya harus menolong kedua anak Patricia, dengan memisahkan mereka untuk sementara waktu. Namun, keputusan ini justru membuat petaka bagi Anna. Ada kekuatan jahat yang akhirnya juga meneror anak-anaknya. Apa yang harus dilakukan Anna? Bagaimana ia menyelamatkan diri dan anak-anaknya?

Sejak film dibuka, penonton sudah dikejutkan dengan adegan menegangkan yang tak terduga. Setting tempo dulu dengan kemasan horor ala Conjuring cukup membuat film ini menjanjikan untuk ditonton, Penampakan hantu wanita dengan pakaian pengantin sebenarnya sudah sering kita saksikan di film Conjuring, jadinya tidak terlalu istimewa, walaupun riasannya mengerikan. Untungnya sutradara Michael Chaves cukup pandai menata jumpscare yang dapat membuat penonton kaget dan berteriak menyaksikan kejutan yang muncul tak terduga,

Tempo dan alur cerita dikemas dengan jitu, sehingga akan membuat penonton tetap larut dalam ketegangan. Adegan-adegan teror yang dilakukan La Llorona pada anak-anak digambarkan penuh kejutan dan ketegangan, tidak berlebihan. Cukup efektif membiarkan penonton menutup separuh wajah.

Yang menjadi pertanyaan penonton adalah, apa hubungan film ini dengan film “The Conjuring” lainnya? Penulis skenario Mikki Daughtry dan Tobias Locanis memilih salah satu karakter hantu di film Conjuring lainnya yang tidak banyak diingat penonton. Akibatnya benang merah film ini dengan semesta Conjuring lainnya jadi buram. Walau begitu, film ini patut ditonton oleh para penggemar horor. Mau uji nyali? Jangan lewatkan film ini. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!